Showing posts with label Camping. Show all posts
Showing posts with label Camping. Show all posts

Wednesday, 19 September 2012

Camp at Curug Panjang Mega Mendung

Jum'at - Minggu (14-16/09/2012), kali kedua saya menikmati hawa dingin dan malam pekat di curug panjang. Kali ini camping saya terasa lebih istimewa, karna saya ditemani oleh istri tercinta (honeymoon di gunung ni ceritanya.. agak ga modal jg siy..hehe:).

Jum'at sore (16.00 wib), kami berangkat dari rumah mengendarai motor, cukup sore dan sudah pasti akan ke-malaman di jalan:), tapi kami tidak mengundurkan niat untuk tetap berangkat ke curug panjang. Awal perjalanan kami lalui dengan waswas karna langit mulai beranjak mendung, benar saja, baru sampai di kawasan bukit pelangi (sentul), gerimis sudah menyapa kami, dan puncaknya saat kami sampai di gadog, gerimis tak tertahan lagi menjadi hujan, kami pun berhenti untuk meneduh.

Cukup lama kami menunggu hujan reda hingga langit makin gelap, sempat saya utarakan kepada istri untuk membatalkan niat, karna saya pikir beresiko melakukan perjalanan di malam hari, selain hujan membuat akses ke curug panjang dengan jalannya yang rusak menjadi licin, sebagian jalannya pun sangat minim penerangan, dan jarang sekali ada kendaraan lalu-lalang di malam hari, kekhawatiran lain, tentu saja begal (mapia curanmor) yang satu ini, bisa saja menguntit dan menjegat lalu membawa kabur motor kami (kalo cuman motor'y siy masih untung, lo tau kan kalo begal sadis...:?) tetapi istri meyakinkan untuk tidak membatalkan rencana, dan kami tetap melanjutkan perjalanan.

Curug Panjang Megamendung Bogor
Setelah melewati taman rekreasi mega mendung, akses jalan mulai rusak dan gelap dengan sisi-sisi jalan disesaki pepohonan, tampak satu-dua rumah penduduk/villa yang seperti rumah hantu (sepi), saat memasuki area ini hanya sekali kami berpapasan dengan kendaraan (motor) lain, mungkin karna baru malam sabtu, tak ada grombolan touring seperti di malam minggu.
 Sebagian akses jalan ke curug panjang cukup baik (weleh ada manusia planet..:)

Dengan perasaan lega kami tiba di gerbang curug panjang, kami hanya disambut pos penjaga yang kosong melompong tanpa petugas dan tanpa adanya penerangan, kami putuskan untuk memasuki area curug tanpa ijin penjaga, jarak dari gerbang ke curug -+500 m dengan jalan setapak berbatu tetapi cukup mudah dilalui motor.


Curug Panjang Mega Mendung Bogor
 Gerbang utama curug panjang (gerbang 2 & 3 ada disebelah timur & selatan)

Curug Panjang Mega Mendung Bogor
 Pos tiket gerbang utama (di gerbang selatan juga ada pos tiket)

Saat sampai di area curug, kami langsung menuju rumah penduduk untuk menitipkan motor, setelah berbasa-basi dan mengisi perut dengan mie rebus (plus telor plus krupuk alot), kami segera mencari lokasi camp untuk mendirikan tenda, pilihan kami area yang tidak terlalu jauh dari rumah penduduk tempat kami menitip motor, karna terlalu gelap untuk meng-explore lokasi camp yang lain.

Curug Panjang Mega Mendung Bogor
 Rumah penduduk sekaligus warung santai (titip motor disini)

Malam pertama camp, kami lewati dengan tertidur pulas dalam tenda, setelah terlebih dulu "dinner berdua romantis" dengan lauk alakadarnya (dadar mie:).

Camping Ground Curug Panjang Megamendung

Pagi hari setelah sarapan, kami berencana meng-explore kawasan curug panjang, belum kami mulai, seorang petugas datang menghampiri kami, berbasa-basi (sumpah basi banget:..hehe) lalu meminta kami membayar tiket dan sewa area camp sebesar 30.000/hari/org (heem.. mahal ya..:p). Entah uang sejumlah itu untuk pembayaran apa saja, si petugas sama sekali tidak memberi rincian yang jelas, sekalipun saya coba mengorek informasi, jawaban yang saya dapat hanya "itu ketentuan dari pengelola" (lagi-lagi, tanah rakyat dikavling-kavlingin, dimahalin lagi.. dasar brontosaurus!:). Sempat saya menawar harga dengan perbandingan sewa area camp di TNGP Cipelang sebesar 25.000/org/2 hari + 2 malam (reed. Jelajah Alam TNGP Cipelang Sukabumi), tapi si petugas dengan enteng menjawab "beda pengelola beda juga dong kebijakannya" (alah, yang bener mah "sama pengelola sama aja kelakuan-nya" pengelolanya kan sama-sama PERHUTANI :p), alhasil saya pun membayar 100.000/2org/2malam (lumyan lah turun goceng..:).

Camping Ground Curug Panjang Mega Mendung
Camping Ground Curug Panjang
Masakan istri. mantabbb!

 Curug Panjang
 Plank Perhutani. Bikin rekreasi makin mahal aja..!

Setelah berdebat kusir dengan si petugas, kami teruskan niat untuk meng-explore kawasan Curug Panjang. Pada guide (peta) yang terpampang di dekat musholah, tergambar miniatur kawasan curug panjang dan sekitarnya. Ternyata selain curug panjang, terdapat juga curug-curug lain yang masih aliran sungai ci esek, tetapi dari informasi yang kami dapat, setiap curug dikelola oleh pengelola berbeda, sehingga jika hendak mengunjungi curug-curug tersebut kita akan kembali dikenakan restribusi area (uh..pungutan mulu, pantesnya disebut curug 30.000 niy..!:).

 lokasi curug panjang
Guide kawasan curug panjang

Akhirnya kami hanya meng-explore kawasan curug panjang saja, kawasan ini memiliki sedikit wana wisata, selain curug panjang dan area camping yang tertata rapi di bukit, terdapat kawasan wisata kampung dan cluster sawah, tetapi fasilitas yang diberikan cukup lumayan (dari pada lo manyun..:), terdapat dua musholah (1 musholah pengunjung dan 1 musholah penduduk), MCK (4 komplek, cukup bersih), aula sederhana (lebih mirip kandang anuan..hehe;) dan tiga warung santai milik penduduk (1 tutup). cukup lengkap kan...!:@

curug panjang
Wedeh gagahnya..:)

curug panjang
Duh pucing.. jedodin pala ah!

trekking ke curug panjang
Apaan tuuh..!

pesona curug panjang
Coba kebayang lg ngapain niy..:)

curug panjang
Lg intai target..:)

wana wisata curug panjang
Pohon ama model, bagusan pohon-nya ya..hehe:p

sejuknya curug panjang
Tukang cilok (bakso colok) kecapean...!

curug panjang
Hamparan batu curug panjang.

curug panjang
Ini dia curug panjang (yah, begitu dech..-)

Sore harinya kami putuskan untuk pindah lokasi camp ke cluster bukit. Di area ini cukup nyaman, selain area tertata rapi di lereng bukit, pohon pinus membuat area teduh dan sejuk, lereng bukit yang menghadap selatan membuat angin tidak langsung menghantam tenda (saat kami kamping, kecendrungan angin bertiup dari utara ke selatan sehingga angin berada dibalik bukit:). 

campground curug panjang
Cluster bukit. (pilihan area cukup nyaman)

camping ground curug panjang
Erm..!

Beberapa menit setelah mendirikan tenda, hujan turun cukup lebat, membuat udara semakin dingin, tetapi dibandingkan dengan di cilember, hawa di curug panjang relatif lebih hangat dan tidak terlalu lembab, faktanya saya tidak pernah sekalipun menemukan penghuni dunia lembab (pacet) seperti yang banyak saya temukan di lokasi camping di cilember, cidahu, atau cipelang.

Pada malam kedua kami tidak lagi camping sendiri, menyamuk kawan (fire adventure) mendirikan tenda di dekat lokasi kami, seperti biasa, setiap kali bertemu kawan pendaki (meski ga kenal) muncul perasaan se-nasib dan se-perjuangan, setelah berkenalan, mereka mengajak kami untuk gabung (ngupy sambil makan ubi) bareng. ((salam rimba lestari kawan (chip, mirna, dede kiting, dani, mba nung, anto, mei, & cs "sorri yg ga kesebut, sumpah lupa.." :))

camping ground curug panjang

camping ground curug panjang

www.inkelbara.co.cc
Kawan-kawan fire adventure (makasih jamuan'nya ya sob..!:)

Esok harinya setelah masak-masak, bersih-bersih dan photo-photo di curug, kami bergegas packing, sialnya, selesai packing hujan kembali turun, dan kami putuskan menunggu reda terlebih dulu di rumah penduduk tempat kami menitip motor, setelah hampir 2 jam akhirnya hujan mulai reda ((untung reda sebelum jam.6, kalo lewat bisa kena charge menginap di curug (30.000/org), (kebijakan model apa nih, duit mulu)). Dan akhirnya pada jam 17.00, kami mulai perjalanan pulang dan sampai di rumah dengan selamat (jam.20.00 wib).





 

Wednesday, 29 August 2012

Jelajah Alam TNGP Cipelang (Pondok Halimun Salabintana Sukabumi)

Hari jum'at (24-08-12), kami berencana melakukan traveling dan camping ke sebuah gunung. Setelah browsing dan mencari informasi mengenai lokasi menarik, akhirnya kami menentukan TNGP Cipelang Sukabumi sebagai destinasi. Terletak di lereng gunung gede dan pangerango, TNGP Cipelang terkenal memiliki panorama indah dan hawa sejuk yang membuat setiap pengunjung betah berlama-lama, apalagi lokasi TNGP Cipelang sangat strategis dan mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan, dari terminal sukabumi dapat ditempuh dengan sekali naik angkot No.14 (warna putih), jarak yang ditempuh -+12 KM ke arah utara terminal, atau dengan dua kali naik angkot no.14 dari depan terminal ke Jalan Siliwangi, lalu naik angkot no.10 (warna merah) jurusan Salabintana atau langsung ke gerbang Pondok Halimun (PH). Perbandingannya, jika memilih cara pertama kita akan dikenakan sewa sekitar 15.000 ke atas (bisa nego), sedang cara kedua memang lebih hemat, 2.000/org (angkot no.14), dan 3.000/org (angkot no.10) sampai salabintana, jika menginginkan langsung ke gerbang PH, maka dikenakan tarif tambahan 10.000/org.

 
Masjid di depan terminal Sukabumi (cocok untuk post istirahat sebelum menuju PH)

Dengan pertimbangan diatas, kami lebih memilih cara pertama demi menghemat waktu, agar tidak repot turun dan naik angkot dengan beban keril yang masih berat, sekaligus agar sampai di lokasi tujuan sebelum sore hari.

Saat sampai di lokasi, kami sedikit bingung untuk menentukan lokasi kemping kami, ada banyak campground yang bisa kita pilih sesuai minat, mulai dari campground TNGP, Elang Jawa, Kabayan, Diparda, Goalpara dan Cipelang Perhutani, (untuk yang terakhir setelah kami telusuri telah ditutup). Akhirnya kami putuskan memilih TNGP, berdasarkan informasi yang kami dapat, campground TNGP berada paling dalam di lereng gunung gede, selain itu TNGP merupakan campground terluas dengan fasilitas paling lengkap.  

 Gerbang TNGP Cipelang :).

Kami langsung melapor ke bagian pusat informasi TNGP, dan kami cukup terkejut begitu mengetahui sewa area camping sebesar 25.000/org untuk 2 hari + 2 malam,  tawar menawar pun terjadi, hingga kami mendapat harga 20.000/org tanpa asuransi. Menurut kami biaya sebesar itu terlalu mahal, meskipun dengan tiket satu harga pengunjung dapat mengakses semua fasilitas yang ada di TNGP (termasuk berkunjung ke curug cibeureum), mengingat saat masuk ke gerbang Pondok Halimun (PH), kami sudah dikenai pungutan restribusi 2.000/org. Saat kami mencoba mengorek informasi mengenai harga area yang relatif mahal tersebut, si petugas berkilah, hal itu berdasarkan ketentuan DEPHUT yang membawahi manajerial pengelolaan TNGP, dan harga 20.000/org yang kami dapat, merupakan pengurangan harga pengelolaan dan non asuransi, sedang untuk pajak DEPHUT tidak bisa dikurangi sepeser pun, sambungnya. (oalah, maca ciii...:p)

Akhirnya kami tetap memilih campground TNGP, meskipun merasa kecewa. (wong tanah rakyat, kok dikapling-kapling gini, dimahalin lagi, dasar kutil bebek..hehe).

Di campground TNGP, terdapat 4 area perkemahan. Area 1 berada tepat di belakang kantor pusat informasi, area 2 di samping area 1, dan area 3 disebelah area 2, sedangkan area 4 didepan area 3 dengan terlebih dahulu menyebrangi kali. Sebagian area 4 berada di dalam hutan, area ini sangat cocok untuk para petualang, tetapi dengan adanya kebijakan dari pengelola TNGP yang tidak mengijinkan camping di dalam hutan ("dilarang camping di semak-semak" istilah mereka), maka setengah area 4 pun menjadi mubajir. Namun kami tetap nekat camping didalam hutan (area 4), alasanya sederhana, karna area 1,2,3 dan sebagian area 4 merupakan area terbuka yang menurut kami sangat tidak nyaman untuk mendirikan tenda (ramai). Lalu pada malam harinya, Ranger yang merupakan pengelola TNGP menyortir setiap area, dan kami mendapat peringatan untuk pindah lokasi pada esok harinya. Tak masalah bagi kami, toh semua sudah kami perkirakan (kalo malam harinya diusir, paling disuruh pindahnya besok..hehe:).

Briefing dulu biar ga misunderstanding...

  Area 4 (dalam hutan)

 
 Kali di samping tenda kami, yang kami namakan "curugan batu". (kalo blm ada namanya siy..:)

 
Badan kaya cacing smua tu..:)

Esok harinya (pada siang hari) kami putuskan untuk pindah (rada kepaksa.:p) ke area 3 (lapangan terbuka). Di area ini (menurut kami) sangat tidak nyaman untuk camping, selain tidak adanya pepohonan sehingga jika angin datang langsung menghantam tenda, hamparan rumput membuat tanah menjadi lembab, sehingga area ini menjadi sarang nyaman bagi serangga.cs (semut, lalat, pacet, cacing, ulat, ular, bahkan kutu kupret hehe:). Benar saja, beberapa menit setelah tenda berdiri, gerombolan lalat dan semut langsung menyerang kami (ngajak tauran(:), tidak berhenti disitu, pacet (binatang super menggelikan) juga turut nimbrung, dan kami menjadi korban ke-tidak-manusiawian serangga.cs tersebut (kejadian deh, donor darah di gunung...:)

Area 3 (lapangan terbuka berumput) lokasi yang menjadi sarang serangga dan koncone..

Di lokasi ini tersedia fasilitas seperti toilet dan pendopo, diluar banyaknya penghuni (read. serangga.cs) yang memang habitatnya, lokasi ini sangat cocok untuk camping keluarga atau event activity seperti LDK, Persami, atau Ospek.

Toilet di area 3

Pendopo di area 3 (cukup tidak terawat)

Melihat kondisi fasilitas diatas, ironis jika membandingkannya dengan harga sewa area yang relatif mahal (read 25.000/org/2 hari 2 malam).

Pada hari ke dua, kami berencana meng-explore kawasan TNGP, tujuan kami adalah curug cibeureum (-+2 KM dari area camping) yang menjadi primadona wana wisata TNGP Cipelang. Ada dua jalur untuk menuju curug cibeureum, jalur pertama merupakan jalur pintas dan setapak bagi pejalan kaki, jalur kedua merupakan jalur memutar untuk kendaraan, kedua jalur ini saling bertemu di post/gerbang curug cibeureum (-+1 KM sebelum lokasi curug). Kami putuskan memilih jalur pertama yang lebih dekat, jalan setapak berbatu yang dilalui cukup menantang, dengan lebar setengah meter, terdiri dari jembatan, tanjakan, dan turunan yang di sisi-sisinya terdapat jurang menganga, dengan batang pohon yang terkadang menghalangi jalan, namun tidak perlu khawatir tersesat, karna ditiap pertigaan jalur terdapat pita merah atau tali rafia (warna biru) yang diikatkan pada batang pohon sebagai penanda jalur.

 Duh,, cuapee mak..!

 
Trek mulai terjal neh..!

Trek basah, tanda curug uda deket!
chaiyooo...!
 
 Plank deket air terjun. 
(ckckckck, hari gini masih suka nge-blok fasilitas umum!:@.. kerjaan oknum pengunjung blo'on ni)

Di jalur ini, jika beruntung kita akan menjumpai primata langka "owa jawa" yang menjadi icon TNGP.
 
gambar "owa jawa'y kaya didramatisir bgt ni,, ginsul'y itu..:)

Sayangnya, hingga sampai di lokasi curug cibeureum, kami tidak bertemu primata langka tersebut, memang sempat kami mendengar suaranya, tapi setelah ditelusuri asal suara, kami tetap tidak melihatnya:/

 Jgn salah faham dulu.. kalo yang ini bukan "owa jawa" tapi "owa gondes"...hehe:).

 
  Ini dia curug cibeureum cipelang, tinggi -+60 m. 
(curug cibereum yang satu lagi ada di cibodas)

 Pelataran curug.

Anak siapa nih? uh, gayamu tong...:)

Saat kami sampai, debit air terjun tidak terlalu besar, 
tapi hawa dingin dan letak air terjun yang ada di ketinggian membuat eksotika alam tersendiri.

Setelah puas menikmati air terjun dan waktu semakin sore, kami putuskan untuk segera kembali ke tenda, sepanjang jalur pulang kami menemukan banyak sekali sampah non organik yang diletakan disemak-semak pohon oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab (ckckckck.. lagi-lagi kerjaan "oknum pengunjung belo'on tuh":), tanpa pikir panjang, sampah tersebut kami bawa turun ke post penjaga curug, tapi saat sampai di post, kami tidak menemukan seorang petugas pun, karna semua penjaga telah turun dengan post yang terkunci rapat. Kami letakan sampah yang kami bawa ke tempat sampah yang tersedia (lebih tepat'y karung yang diikat di batang pohon..:).

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih jalur kendaraan untuk kembali ke tenda, meskipun yang saya dengar bahwa jalur kendaraan lebih jauh karna trek'nya memutar, tetapi terdorong godaan bahwa jalur itu menawarkan pemandangan yang lebih indah, kami putuskan untuk melaluinya. Benar saja, sepanjang perjalanan melalui jalur ini, mata kami dimanjakan dengan pemandangan kota Sukabumi dan sebagian Cianjur yang terlihat dari ketinggian, hamparan kebun teh, padi, tomat, dan strowbery juga menghiasi, belum lagi di ujung jalur terdapat kandang Sapi perah yang penuh dengan Sapi (ya iyalah, masa kandang sapi penuh dengan embe..hehe) yang entah siapa pemiliknya (mungkin prabowo kali yee..hehe).

 Pemandangan puncak gede & pangerango terlihat di jalur ini.

Kebun teh'nya suejuk buat trekking...

 Sapinya lagi pada emam... duh jd laper... mmmoooh...

  Ternyata jauh bangat ni jalur (bener2 muterin gunung). 
cuapee,, satu kelokan lagi baru nyampe...

Malam terakhir camping jadi malam yang melelahkan, satu persatu kawan "gagas destinasi" mulai tertidur setelah puas bermain gaple (permainan wajib waktu camping sambil RT'an..:). Tapi buat saya, malam di gunung sangat sayang untuk dilewatkan dengan tertidur, sekalipun udara semakin dingin dan lembab (mungkin 18 s/d 15 c), saya tetap melek sambil berusaha menyalakan api unggun untuk sekedar menghangatan telapak tangan, sialnya, setiap kali api menyala sela beberapa menit ia kembali mati, karna kayu bakar yang ikut berembun. Begitu pun dengan tenda-tenda di sekitar kami, hampir tidak ada yang mampu menyalakan api unggun, mungkin mereka pun sudah berusaha dan akhirnya menyerah pada keadaan. 
 
 Gopala, yagpilu, gaplean yuu..!

 Api unggun yg bikin tangan kriting...
(Beberapa kawan uda pada merem sambil lomba ngentut dlm tenda... 
Busyet bau'y maknyosss...:p)

Siang harinya kami harus bergegas pulang ke Depok, karna diantara rekan kami ada yang mulai masuk bekerja pada esok harinya. Setelah acara masak-masak dan bersih-bersih di MCK (yang kolamnya lumutan dan keran'y mampet:), kami pun melakukan packing. Ada yang mengejutkan saat kami packing, se-ekor anak ular (entah ular tanah/kobra) melilit dibawah terpal yang kami jadikan alas (masih untung cuman anak'y, bisa repot kalo bokap'y..:). Kami berpikir untuk tidak mengganggu si anak ular (Bagenin wae lah, wong kita yang uda ganggu habitat mereka:).

 Packing!... Sampah'y jgn lupa!

Setelah melapor (check out) kepada petugas di kantor TNGP, dan menyerahkan se-kresek sampah untuk ditukar dengan KTP, kami pun turun gunung dengan berjalan kaki. Sebetulnya ada banyak angkot no.10 (warna merah) di parkiran PH yang menunggu penumpang, tapi, kami lebih memilih berjalan kaki untuk sekedar melatih fisik dan dapat menikmati pemandangan alam dengan lebih puas, (sebenarnya siy karna budget yg mulai tipis..:).

Sepanjang perjalanan pulang, kami disuguhi pemandangan kebun teh yang tertata rapih (entah siapa yang rajin banget nanam rapih kaya gitu...:), dan sesekali disuguhi pemandangan muda-mudi yang sedang asyik bermesraan (kasarnya mojok) diantara rimbun kebun teh (heran, merusak pemandangan aja, lagian cewe-cewe pada mau aja diajak mojok di kebon.. ah cinta emang buta & budeg....ngiri.com:)

 Jembatan di depan gerbang dan parkiran PH.

 Tu..dua.. tu... dua...

 Trekking menuju Salabintana.

 Boyband ga laku..:)


Duo amit-amit..:P

Yang lagi pada mojok yang ambilin gambarnya..

Siiip aja deh...!

Setelah berjalan satu jam menuruni lereng ditemani cuaca terik dan jalan berdebu, kami beristirahat sejenak di warung kopi sambil melepas lelah dan mengobati luka kulit di kaki yang tergores sendal gunung.

 
Wajah-wajah pasrah para pendaki pemula...zzz :)
(di belakang pendopo ini terjadi aksi pencurian strowbery...hehe:)

Pukul 13.30, kami lanjutkan trekking pulang, masih dengan berjalan kaki sambil berharap ada losbak/truk se-arah yang sudi memberi tumpangan, atau paling tidak ada cewe cuakep yang mau ngegodain kami (ngarep.com). Lalu, "pucuk dinanti, ulan pun tiba" di dekat pertigaan salabintana do'a kami terkabul, sebuah truk penumpang sudi memberi tumpangan ke arah terminal... (hip hip horee:)

Turun dari truk, kami harus berjalan -+2 KM untuk sampai di terminal, melewati alun-alun kota sukabumi yang hiruk-pikuk dengan kios-kios di sepanjang jalan. Mendekati terminal, kami mendapat tumpangan gratis (losbak) yang searah, kami pun tidak menyia-nyiakannya, dan losbak itu membawa kami sampai di terminal Sukabumi.

Setelah berdiskusi di perempatan terminal, kami putuskan untuk kembali menunggu truk/losbak (omprengan) yang menuju jalur pulang, beberapa kali menyetop omprengan dan gagal, akhirnya sebuah losbak berplat merah (entah milik pemerintah atau partai yg itu...hehe) berhenti dan... taaarik kaaang...

Ada pribahasa "Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit". Yups, pepatah itu betul-betul kami adopsi, meskipun tiap kali truk dan losbak omprengan yang kami naiki hanya membawa kami beberapa meter dari lokasi semula, tapi kami terus dan terus berusaha memberhentikan truk/losbak tanpa putus asa, dengan berharap mendapatkan truk/losbak omprengan yang menuju Ciawi.


Sambung-menyambung omprengan terus kami lakukan, entah berapa banyak truk/losbak target yang menolak dengan alasan "penuh lah atau dekat lah". Begitupun entah berapa banyak angkot/bis yang menawarkan sewa, dengan tegas kami tolak, "maaf kang, mau jalan aja". Kami lebih memilih berjalan kaki saat tidak mendapatkan omprengan, dan tak terasa (padahal dengkul serasa uda mau copot:) langkah kami sampai di Cibadak.

Sejenak kami beristirahat sambil minum kopi disebuah warung  yang pemiliknya berbaik hati memberi seteko air putih dengan cuma-cuma. (kita do'ain bareng2 yuk, mudah2an yang punya warung dilarisin dagangan'nya... Amiinn..:)
Qola wa Qolu... (ngaroko heula sareng ngopy dulu:)

Setelah energy cukup terkumpul, kami kembali berjalan kaki sambil sesekali men-setop truk/losbak yang lewat, sampai di pertigan Cibadak, akhirnya sebuah truk minuman kemasan memberi tumpangan sampai Cidahu...yuhuuui..:)

RCTI Okeeeh..heheh

Sampai di Cidahu, kami sempat mengisi perut di sebuah warteg. Hari mulai gelap, dan kami bergegas melanjutkan perjalanan dengan losbak omprengan yang berhasil kami stop, losbak itu mengantar kami sampai Lido. Di lido cukup lama kami tidak mendapat omprengan lagi, akhirnya kami putuskan untuk naik bis jurusan Sukabumi-Ciawi-Bogor.

Ada informasi menarik yang wajib diketahui oleh para Backpacker. Setiap tahunnya, di beberapa hari sebelum dan setelah lebaran (seperti tahun ini dari tgl. 17 jam. 22.30 s/d 27 jam. 22.30 Agst 2012, pengumuman'y biasa ditempel di jendela bis/angkot..:), sewa angkot/bis di daerah Bogor dan Sukabumi akan naik mengikuti harga daging dan cabe (akal-akalan kondektur ama si supir aja niy..:). Seperti yang kami alami saat berangkat ke PH menaiki bis jurusan Depok-Sukabumi dari pintu tol Citeureup, si kondektur meminta sewa sebesar 25.000/org, yang biasanya hanya 15.000/org, (sempet "berdebat sengit" dengan si kondektur, akhirnya kami mendapat harga 18.000/org). Begitu juga saat kami menaiki bis jurusan Sukabumi-Bogor, si kondektur meminta sewa 10.000/org, tapi dengan jurus memelas akhirnya deal di angka 50.000/ 7 org, meskipun sepanjang jalan si kondektur masih saja "ngaririhan" (bahasa sunda nya) agar kami memberi tambahan, tapi kami terus ngeles (ala bajaj) hingga Bis sampai di Branang siang, dan kabuuurrrr...:)

Dari Branang siang, kami berjalan kaki menikmati suasana malam tugu kujang (sambil ngegodain bencong...hehe). Disinilah, kami bertemu dengan grombolan pencinta alam asal Tanggerang yang sedang menunggu omprengan di lampu merah. Saat itulah timbul perasaan se-nasib dan se-perjuangan dengan mereka, meskipun tidak saling mengenal, tapi kami berjabat tangan dan saling menyapa, menawarkan minuman, bahkan sampai ngompreng truk bareng. Emm... ya, betul sekali.. Inilah yang membuat hobi camping & naik gunung menjadi lebih istimewa dibanding hobi lainnya.
 

Event

Tanggal 19-20 Oktober Pendakian massal ke puncak gede Informasi: 085692044483 (klik event menu)

Blogroll

About